Review Film

REVIEW FILM THE INVISIBLE MAN (2020): Psikopat Yang Samar Terlihat, Peleburan Genre Sci-Fi Horror & Psychologial Thriller

REVIEW FILM THE INVISIBLE MAN (2020): Psikopat Yang Samar Terlihat, Peleburan Genre Sci-Fi Horror & Psychologial Thriller – Universal Pictures kembali menelurkan karya-nya melalui tangan dingin seorang sutradara kenamaan berkebangsaan Australia yaitu Leigh Whannell, yang terkenal menghasilkan karya-karya film menegangkan seperti Insidious Series serta Saw. Film The Invisible Man dirilis pada bulan Februari 2020, berdurasi 124 menit, dan berlatar belakang di San Fransisco, Amerika Serikat.

Whannell juga menggandeng beberapa aktris dan aktor kenamaan asal Amerika yaitu Elisabeth Moss (Cecilia Kass) dan Aldis Hodge (James Leiner), aktor berkebangsaan Inggris yaitu Oliver Jackson-Cohen (Adrian Griffin) serta aktris asal Australia yaitu Harriet Dyer (Emily Kass).

Film The Invisible Man ini adalah sebenarnya film yang diproduksi ulang atau remake film dari garapan seorang sutradara James Whale dengan judul film yang sama yaitu The Invisible Man (1993). Film ini diangkat dari cerita Novel karya HG Wells dengan genre yang sama yaitu mengangkat kisah Sci-Fi Horror.

Film ini berkisah tentang proses panjang pelarian seorang Istri (Cecilia Kass) dari suaminya sendiri (Adrian Griffin) dikarenakan tindakan abusive yang selalu ia terima selama mereka bersama, yang dibantu oleh adik kandung beserta teman kecil Cecilia.

Film ini juga mengangkat tema Sci-Fi, dimana Adrian adalah seorang peneliti dan penemu (scientist) yang bergerak di bidang optik, memiliki kehidupan yang kaya raya, namun bersifat ambisius dan suka mengekang orang-orang terdekatnya termasuk istrinya dan adik kandungnya sendiri.

The Invisible Man keluaran tahun 2020 ini terasa sangat menarik untuk di telaah satu per satu, mengingat film ini adalah film remake yang pastinya banyak dari para penonton yang mengharapkan isi dari film ini dapat memuaskan rasa penasaran dan mungkin rasa ketidakpuasan mereka terhadap film yang sama sebelumnya.

Terlebih sang sutradara yang dikenal sudah memproduksi beberapa karya film yang cukup membuat bulu kuduk merinding dan cukup berhasil di pasaran film Horror – Thriller seperti yang sudah disebutkan diatas tersebut.

Untuk lebih mendalami dan memahami review yang akan kita bahas selanjutnya ini, yuk kita mulai dulu dengan ringkasan alur cerita dari film The Invisible Man, yang mana akan membahas garis besar sudut per sudut adegan dari film bergenre Sci-Fi Horror ini. Namun, review film ini penuh dengan spoiler, jadi bagi kalian yang belum menyaksikan film ini, jangan kecewa ya.

FILM HORROR

PLOT SUMMARY

Terjebak di dalam situasi yang hampir membuatnya gila, yaitu situasi pernikahan dimana sama sekali tidak terbayangkan olehnya, Cecilia Kass memutuskan untuk pergi meninggalkan Adrian Griffin, suami jenius dan kaya raya namun sadis terhadap dirinya itu saat tengah malam dengan bantuan sang adik, Emily Kass, setelah Cecilia membius tidur suaminya tersebut dengan obat bermerk Diazepam.

Dalam proses Cecilia keluar dari rumahnya yang sangat besar dan panjang tersebut, beberapa kali ia hampir saja membangunkan suaminya dengan sedikit kecerobohan-kecerobohannya seperti menjatuhkan tempat makan sang anjing peliharaan mereka, Zeus, sampai pada tidak sengaja membunyikan alarm mobil milik suaminya yang terparkir di garasi, dikarenakan tertabrak badan sang anjing saat Ceciila berusaha melepaskan kalung sang anjing yang diduga terdapat kamera pengintainya, sehingga Cecilia perlu membuangnya.

Saat alarm mobil tersebut berbunyi dengan kencang, ia pun terus berusaha berlari menggapai pintu gerbang rumah mereka, lalu ia memanjat gerbang tinggi tersebut dengan sedikit susah payah. Cecilia pun berhasil keluar gerbang rumahnya lalu menunggu dengan sangat cemas kedatangan mobil dari adiknya, Emily.

Sedangkan Adrian yang sepertinya sudah melihat dan mengetahui dari jendela kamarnya bahwa istrinya akan melarikan diri, ia akhirnya memutuskan untuk pergi bersembunyi entah di sudut mana, hingga pada saat Cecilia naik ke mobil Emily yang sedari tadi ia tunggu-tunggu, tiba-tiba Adrian menghampiri mereka lalu memecahkan kaca mobil dengan tangannya sendiri sambil berteriak agar istrinya tersebut tidak pergi meninggalkannya.

Namun mobil tetap melaju dengan cepat, meninggalkan Adrian sendirian dengan genggaman tangannya yang penuh darah, serta botol obat Diazepam milik Cecilia yang sepertinya tidak sengaja terjatuh dari tasnya saat ia buru-buru menaiki mobil Emily.

Setelah kejadian tersebut, Cecilia memutuskan untuk tinggal sementara di rumah teman kecilnya yaitu James Lanier, seorang laki-laki yang bekerja sebagai polisi detektif di kota San Fransisco tersebut, bersama dengan anak remaja perempuan James, Sydney Lanier.

Suatu hari, Tom Griffin, adik kandung sekaligus pengacara dari Adrian suami Cecilia, meminta Cecilia untuk bertemu dengannya. Disaat pertemuan berlangsung, Tom menyampaikan berita kepada Cecilia bahwa Adrian suaminya telah meninggal dunia dikarenakan bunuh diri, dan telah meninggalkan seluruh harta kekayaannya kepada Cecilia seorang.

Cecilia, yang saat itu ditemani oleh Emily, merasa shock dan setengah tidak percaya namun juga sedikit lega mendengar berita kematian suaminya yang suka berperilaku kasar kepadanya tersebut.

Awalnya mereka tinggal di rumah James dengan keadaan yang nyaman dan baik-baik saja. Hingga sampailah mereka pada runtutan teror demi teror yang tidak diketahui dilakukan oleh siapa.

Teror-teror tersebut terjadi secara tak kasat mata namun disaksikan dan dirasakan dengan jelas oleh Cecilia, dan tak luput memakan korban hingga hal tersebut benar-benar membuat Cecilia kewalahan menghadapinya, sampai-sampai ia pun sempat harus mendekam di Treatment Center, tempat dimana orang-orang yang memiliki gangguan mental awal dirawat, karena orang-orang di sekitarnya menyangka bahwa Cecilia sedang depresi dan terganggu mentalnya dikarenakan trauma tindakan sadis dan perlakuan kasar suaminya selama mereka masih bersama.

Cecilia pun memiliki rencana untuk membuktikan apa yang ia rasakan adalah hal yang nyata dan sangat perlu untuk ditindak lanjuti. Cecilia merasa bahwa suaminya tersebut tidak meninggal dan yang menjadi dalang teror demi teror yang ia rasakan selama ini. Ia kemudian mendatangi rumah lama suaminya yang berada jauh dari perkotaan, sesampainya disana ia segera masuk dan mencari bukti apapun itu yang bisa mendukung perkiraannya selama ini mengenai Adrian, suaminya.

film thriller

GOOD POINTS DARI FILM THE INVISIBLE MAN (2020)

Leigh Wannell, sang sutradara dari film The Invisible Man ini sepertinya memahami betul bagaimana karakter yang harus dihidupkan dari seorang Cecilia Kass. Hal itu dapat dilihat dari pemilihan aktris Elisabeth Moss untuk dijadikan sebagai Cecilia Kass di film The Invisible Man ini.

Elisabeth benar-benar mendalami peran yang diberikan kepadanya, dan hal itu membuat Elisabeth berhasil memerankan peran sebagai Cecilia yang lemah dan butuh pertolongan dari orang lain dikarenakan suaminya yang sakit jiwa.

Ia juga memainkan peran ini dengan akurasi yang pas, tidak kurang dan tidak juga berlebihan. Karena jika akurasinya kurang, penonton akan merasa gemas dan enggan untuk melanjutkan melihat adegan per adegannya lagi, sedangkan kalau berlebihan, penonton mungkin akan merasa “mual” dan bisa saja terus menggerutu selama menonton film ini.

Genre film ini adalah Scientific Fiction Horror atau disingkat menjadi Sci-Fi Horror, artinya adalah dimana unsur kejadian-kejadian seram yang dihasilkan dileburkan bersamaan dengan aksi-aksi atau unsur-unsur yang berbau ilmiah dan futuristik, namun tetap menjadi sebuah cerita fiksi.

Namun saat ditonton hingga selesai, The Invisible Man juga terasa seperti film yang bergenre Psychological Thriller, yang mana adegan per adegan di dalam filmnya tersebut benar-benar terfokus pada emosi si tokoh utama, memainkan psikis tokoh utama beserta penontonnya sekaligus, juga plot yang disajikan tidak cukup mudah untuk dicerna.

Poin ini dirasa menjadi nilai plus untuk The Invisible Man, karena bisa menyatukan sekaligus para penonton yang menyukai film bergenre Horror, Sci-Fi, serta Thriller psikologi hanya dalam 1 film saja.

Film Horror identik dengan jump scare-nya yang terkadang pas, terkadang juga kelewatan. Terkadang mudah ditebak, terkadang membosankan. Di film The Invisible Man, segala bentuk jump scare yang diperlihatkan benar-benar dalam porsi yang pas, tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Seperti contohnya pada saat adegan Cecilia memanjat atap rumah dengan menggunakan tangga untuk memeriksa bunyi handphone yang ia rasa milik Adrian, disitu sang sutradara mengatur dengan apik beberapa jump scare yang tidak terlalu menyebalkan, sehingga penonton tetap fokus pada alur cerita yang disajikan tanpa harus terdistraksi dengan kejutan-kejutan receh ataupun mengerikan lainnya yang pada akhirnya bisa saja membuat penonton enggan untuk melanjutkan menyaksikannya lagi.

Terakhir, poin bagus yang sayang untuk dilewatkan dari film ini adalah sang sutradara memperlihatkan Interior rumah dari Adrian dan Cecilia yang cukup memukau dan wah, tidak umum dan pasaran, berlokasi di pinggir pantai yang terlihat sangat menenangkan, sangat mencerminkan bahwa rumah tersebut adalah rumah milik seorang scientist yang kaya raya, meskipun di dalamnya terdapat ketidak-bahagiaan yang juga tak kasat mata, seperti judul filmnya.

NOT REALLY GOOD POINTS DARI REVIEW FILM KALI INI

Di film ini dikatakan bahwa laki-laki bernama Adrian Griffin yang diperankan oleh aktris Oliver Jackson-Cohen, adalah seorang scientist yang memiliki gelar si jenius, ambisius, dan kaya raya. Juga memiliki seorang istri, dan rumah yang cukup mewah.

Namun entah mengapa porsi Adrian di The Invisible Man ini tidak cukup ditonjolkan seperti gelar-gelar yang ia sandang tersebut, bahkan bisa dikatakan sangat kurang. Mungkin lebih baik jika ada 1 adegan saja yang memperlihatkan Oliver sedang mengerjakan sesuatu di laboratorium atau mungkin ruang kerja miliknya, agar hal tersebut lebih memperkuat ingatan penonton mengenai dirinya yang dikenal sebagai mad scientist tersebut.

Di menit-menit awal mulainya film ini, kita sebagai penonton langsung disuguhkan dengan adegan Cecilia yang sedang terjaga di tengah malam dan pada akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari suaminya. Jika saja terdapat adegan sebelumnya yang menunjukkan bahwa Adrian adalah suami yang kasar dan sadistik terhadap istrinya, mungkin film ini akan memberikan permulaan yang lebih dramatis lagi. Atau bisa saja adegan kekerasan tersebut diselipkan saat Cecilia sedang bersiap-siap untuk melarikan diri dari rumah tersebut.

Base yang diangkat dari film ini adalah tentang seorang istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sendiri dikarenakan perilaku kasar dan sadis suaminya yang selama ini sang istri terima, namun entah mengapa hal itu terasa kurang dikarenakan tidak adanya adegan kekerasan yang dilakukan dari Adrian kepada Cecilia.

Masih ingat adegan saat Cecilia mendatangi rumah adiknya Emily untuk meminta pertolongan? Saat membuka pintu, Emily langsung menolak mentah-mentah kedatangan kakaknya tersebut sambil mengutip kata per kata secara satir yang ia baca di email yang ia terima, dimana email itu mengatas namakan Cecilia sebagai pengirimnya.

Sebagai kakak – adik kandung yang kemungkinan besar sudah saling mengenal satu sama lain seumur hidup mereka, Emily tidak seharusnya langsung percaya begitu saja dengan apa yang ia baca, terlebih melihat wajah Cecilia yang panik dan kebingungan saat Emily menyemprotnya dengan kata-kata dan segala tuduhan yang sama sekali tidak ia ketahui tersebut.

Terasa aneh jika Emily tidak bersikap skeptis pada permasalahan isi email tersebut, mengingat yang ia hadapi saat itu adalah kakak kandungnya sendiri yang selama di film tersebut tidak terlihat adanya permusuhan diantara mereka.

Motif Adrian mengajak Cecilia makan malam di adegan akhir dari film The Invisible Man ini terasa kurang jelas dan kurang mengenai sasaran, hal ini masih berkaitan pada poin-poin awal dimana peran Adrian sebagai suami yang kasar dan kejam terhadap istrinya sangatlah kurang diperlihatkan, sehingga saat tiba dimana adegan Adrian dan Cecilia makan malam setelah berbagai kejadian teror yang dialami Cecilia, motif yang mungkin ingin disampaikan oleh Leigh Wennell sang sutradara kemungkinan kurang mengenai sasaran.

Bisa dipastikan para penonton banyak berasumsi sendiri bahwa keinginan Adrian mengajak makan malam tersebut adalah untuk membujuk Cecilia agar kembali di pelukannya, setelah Adrian tahu Cecilia sedang mengandung anaknya.

Terakhir dan tak kalah menariknya, entah mengapa Cecilia memasang wajah aneh serta bersikap misterius saat menyebut kata “surprise” kepada suaminya Adrian yang sedang sekarat di menit-menit terakhir dari film ini. Sebelumnya, Adrian terlihat menyayat lehernya dengan pisau makan yang sedang ia pegang sambil menunggu Cecilia keluar dari toilet, sehingga hal tersebut menyebabkan ia tewas di hadapan Cecilia.

Sikap Cecilia di adegan ini bisa menjadi blunder untuk dirinya, dikarenakan karakter seorang Cecilia Kass yang dimainkan oleh Elisabeth tersebut dari awal hingga akhir film ini dibentuk kuat sebagai korban lemah yang membutuhkan pertolongan, dan sama sekali tidak terlihat adanya keinginan untuk berniat jahat kepada orang lain.

Penonton mungkin akan bertanya-tanya dan justru menyimpulkan sendiri dengan benang kusut yang masih belum terurai, mengingat adegan ini adalah adegan penutup dari film The Invisible Man. Mungkinkah akan ada Part selanjutnya yang akan digarap lagi oleh Leigh Whannell Cs untuk film ini? Mungkin saja.

Film Terbaik Fantasi21.com

CLOSING REVIEW FILM KALI INI

Itulah detail review film dari kami mengenai film The Invisible Man (2020). Semoga review ini bisa membantu kalian untuk lebih menikmati dan memahami alur cerita dari film garapan Universal pictures ini.

By the way, bagi kalian yang ingin menonton film ini diharapkan menyiapkan camilan dan minuman yang cukup yah, dikarenakan durasi film ini yang cukup panjang yaitu sekitar 2 jam, juga alur yang disajikan yang cukup membuat bergidik dan enggan untuk melewatkannya barang beberapa detik pun. Kalian juga bisa streaming online film The Invisible Man (2020) di website fantasi21.com , web streaming gratis dan berkualitas yang tidak akan membuat kalian jengkel karena banyaknya iklan serta gangguan-gangguan makhluk halus lainnya. Hehe.

Fantasi21.com merupakan salah satu situs film gratis terbaik dan terpercaya juga situs review film terbaik, terdapat hampir 80.000 judul film lebih bisa kalian tonton, mulai dari film-film tahun 1965 hingga film-film tahun terkini yaitu 2020. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk ditonton filmnya!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *